You are currently viewing Industri Halal: Peluang Bisnis yang Bukan Cuma Soal Makanan
Industri Halal: Peluang Bisnis yang Bukan Cuma Soal Makanan - LPH Ma'had Aly An-Nur II

Industri Halal: Peluang Bisnis yang Bukan Cuma Soal Makanan

Sebut “industri halal”, dan yang muncul di kepala kebanyakan orang adalah rak supermarket. Mie instan, biskuit, daging beku.

Padahal bagian yang paling menarik justru ada di luar itu. Dan di situ ruang tumbuhnya masih lebar banget.

Kosmetik dan Perawatan Diri

Ini contoh paling jelas. Permintaan produk yang jelas kehalalan bahannya terus naik, terutama dari konsumen muda yang sekalian peduli isu bebas uji hewan dan bahan alami.

Skincare, parfum non-alkohol, sampai kutek yang bisa ditembus air wudhu. Semua itu lahir dari kebutuhan yang dulu nggak terlayani.

Yang menarik, produk-produk ini juga laku di kalangan konsumen non-Muslim. Mereka membaca label halal sebagai jaminan tambahan soal kebersihan dan kejelasan bahan.

Farmasi dan Suplemen

Sektor ini ceritanya lebih rumit. Kapsul berbahan gelatin, bahan aktif dari sumber hewani, media kultur tertentu. Titik kritisnya banyak.

Tapi solusinya juga sedang berkembang: kapsul nabati, bahan pengganti berbasis fermentasi mikroba, riset substitusi yang melibatkan banyak kampus. Ini area di mana penelitian ilmiah dan kebutuhan syariat ketemu secara langsung.

Fesyen Muslim

Indonesia sudah lama jadi pemain besar di sini. Ekosistem desainer, produsen kain, dan brand lokalnya cukup matang.

Yang berkembang belakangan adalah arah keberlanjutan. Kain ramah lingkungan, produksi yang adil buat pekerja, dan model bisnis yang nggak mendorong konsumsi berlebihan.

Wisata Ramah Muslim

Sektor jasa yang tumbuh cepat. Konsepnya sederhana: hotel dengan penunjuk arah kiblat dan restoran bersertifikat, bandara dengan musala yang layak, paket wisata yang mengakomodasi waktu salat.

Lucunya, beberapa negara yang penduduknya mayoritas bukan Muslim justru paling agresif menggarap segmen ini. Mereka lihat daya belinya.

Keuangan Syariah dan Logistik Halal

Dua ini yang melengkapi rantainya. Pembiayaan tanpa bunga untuk pelaku usaha, asuransi syariah, sampai gudang dan armada pengiriman yang memisahkan barang halal dari non-halal.

Di Mana Posisi Indonesia?

Kita punya populasi Muslim terbesar di dunia. Artinya kita pasar raksasa.

Tantangannya justru itu. Selama ini kita lebih banyak jadi konsumen daripada produsen. Beberapa negara dengan penduduk Muslim jauh lebih sedikit malah lebih dulu membangun kapasitas ekspor produk bersertifikat halal.

Peluang untuk membalik posisi ini ada. Langkahnya dimulai dari hal-hal yang kelihatannya administratif: memperbanyak UMKM bersertifikat, memperkuat lembaga pemeriksa halal, dan membangun pengakuan sertifikat kita di negara tujuan ekspor.

Buat Pelaku Usaha Kecil, Pintu Masuknya Nggak Harus Besar

Sabun buatan rumahan, camilan kemasan, jasa katering, kerajinan berbahan kulit. Semuanya bisa masuk ekosistem ini.

Yang dibutuhkan bukan modal besar. Yang dibutuhkan kemauan mengurus kejelasan status produk sejak awal, sebelum usahanya terlanjur besar dan malah repot membenahi ke belakang.

Leave a Reply