Kita semua belanja dengan cara yang mirip. Ambil dari rak, lihat harga, masukkan keranjang. Selesai dalam hitungan detik.
Hampir nggak ada yang sempat membalik kemasan dan membaca komposisinya. Padahal untuk urusan halal, tambahan beberapa detik itu bisa cukup menentukan.
Berikut cara mengeceknya tanpa harus jadi orang yang parno.
1. Kenali Dulu Logo yang Berlaku Sekarang
Indonesia sekarang memakai Label Halal Indonesia terbitan BPJPH. Bentuknya menyerupai gunungan wayang dengan tulisan kaligrafi di dalamnya.
Logo lama yang berbentuk lingkaran dengan tulisan MUI sudah nggak diterbitkan lagi, meski produk lama yang masih beredar bisa saja masih memakainya.
Yang perlu diwaspadai justru label buatan sendiri. Tulisan Arab “halal” yang ditempel begitu saja tanpa nomor sertifikat, atau logo yang bentuknya mirip tapi kalau diperhatikan ternyata beda.
2. Cek Nomor Sertifikatnya
Ini langkah paling menentukan dan paling sering dilewatkan.
Label halal resmi selalu punya nomor sertifikat yang bisa ditelusuri lewat layanan cek produk halal milik BPJPH. Masukkan nama produk, nama pelaku usaha, atau nomor sertifikatnya, lalu lihat apakah datanya cocok.
Kalau produknya mengklaim halal tapi nggak muncul di basis data, itu tanda tanya besar.
3. Baca Komposisi, Terutama Nama-nama yang Samar
Beberapa nama bahan terdengar netral padahal sumbernya bisa hewani:
| Bahan | Kenapa perlu dicek |
|---|---|
| Gelatin | Bisa dari sapi, bisa dari babi |
| Lesitin | Bisa dari kedelai, telur, atau sumber lain |
| Rennet | Enzim pada keju, bisa dari lambung hewan |
| Shortening | Lemak, bisa nabati bisa hewani |
| Gliserin | Umum di kosmetik, sumbernya beragam |
| Perisa | Kadang dilarutkan dengan alkohol |
Kalau produknya sudah bersertifikat, semua ini sudah diperiksa auditor. Kalau belum, membaca komposisi adalah pertahanan terakhir kamu.
4. Hati-hati dengan Produk Impor dan Belanja Online
Produk luar negeri kadang membawa logo halal dari lembaga sertifikasi negara asalnya. Sebagian lembaga itu diakui lewat kerja sama saling pengakuan, sebagian nggak.
Di marketplace masalahnya lain lagi. Foto produk bisa diedit, atau logonya dipinjam dari produk lain. Kebiasaan yang murah tapi berguna: baca ulasan pembeli, dan tanya langsung ke penjual nomor sertifikatnya.
5. Untuk Makanan Siap Saji, Tanya Saja
Restoran, kedai kopi, dan warung nggak selalu memajang sertifikat di dinding.
Nggak ada salahnya bertanya apakah dapurnya sudah bersertifikat, atau minimal menanyakan asal dagingnya. Pertanyaan seperti ini biasa saja kok, dan pelaku usaha yang serius biasanya justru senang ditanya.
Teliti Boleh, Curigaan Jangan
Tujuannya bukan mencurigai semua orang. Tujuannya membiasakan diri memverifikasi hal-hal yang memang bisa diverifikasi.
Dan ada efek sampingnya yang bagus: semakin banyak konsumen yang bertanya dan mengecek, semakin besar dorongan bagi produsen untuk segera mengurus kejelasan status produknya.